PENDIDIKAN, EKONOMI DAN AGAMA: MAMPUKAH SULBAR MENANGKAP PELUANG?
"Ada 5 Content utama menujusulbar yang malaqbiq. Memanfaatkan potensi sulbar sebaik-baiknya, membangun human capital dan Indeks pembangunan manusia serta Pendidikan yang berkualitas menuju Sulbar yang lebih baik". Ungkap Prof. Dr. Ir. H. Husain Syam, M. TP., IPU., ASEAN Eng dalam Webinar Serial yang diadakan oleh ZAIN OFFICE, minggu 19 Desember 2021.
Menyiapkan Sulbar sebagai penyangga ibu kota baru di Kalimantan, dengan posisi yang strategis dari ibu kota. Sudah semestinya peluang itu ditangkap dengan sumber daya alam kita seperti pertanian, pariwisata, tambang Energi, peternakan, perikanan dan kehutanan.
Semua ini untuk mencipta human capital, dengan kesesuaian beberapa indikator standar world bank . Sebab dalam index pembangunan manusia, Indonesia masih ranking 6 dia Asia. Hanya Vietnam, Timor Leste dan kamboja yang kita kalahkan. Skala Provinsi kita tertinggal lagi, hanya NTT dan papua dibawah kita (data BPS 2021).
Lalu, kita harus berbenah dimulai dari pendidikan Sulbar diupayakan sampai pada Standar pendidikan Nasional. Kualitas manusia ditentukan bagaiamana kurikulum, kompetensi lulusan, proses pendidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, penilaian pendidikan serta kompetensi pendidikannya.
Sementara Sulbar masih dihantui Stunting yang makin hari makin tinggi. Beberapa masalah tersebut adalah tanggung jawab kita semua menuju Sulbar yang lebih baik. Sulbar yang sudah sampai pada optimalisasi setiap sektor dan sinergi semua elemen masyarakat.
Dalam kesempatan lain, Dr. Syarkawi pun demikian. Memandang Ekonomi digital sebagai peluang dan tantangan. Makin hari makin digital dan robotic. Dari mechanization ke mass production ke computercomputer terakhir cyber physical systems.
Kalau Sulbar ingin lebih baik, ia mesti open minded dengan issue perkembangan teknologi. Sekarang kita kenal IoT, Big data, Artificial Intelligence dan Robot. Kedepan, ini yang akan menjadi tranding topic. Peluang Sulbar adalah cakap dalam berdigital dan siap menerima perkembangan teknologi.
Kedepan, Profesi yang terancam punah dengan pergeseran zaman. Sedikit kita butuhkan lagi tenaga Computer operator, sekretaris pembuat surat, kerja fisik, sebab akan diganti dengan robot, IoT, Artificial intelligence dan big data, makin kedepan makin hilang pekerjaan itu. Seperti pertanian, hampir semua robot yang mengelola, bandara dan pelabuhan sepi, karena robot yang bekerja.
Sumber daya manusia yang makin langka adalah yang tidak mampu dijangkau oleh digital. Seperti kekuatan hati dan kekuatan pikiran. Maka yang paling dibutuhkan nanti adalah itu. Seperti data analysis scientists (analisis Ilmuwan) machine learning specialist (spesialis mesin) dan digital marketing strategy specialist (Online shopping). Maka milikilah kekuatan Pikiran dan hati (Critical Thinking) yang tidak dimiliki oleh digital.
Sejalan dengan itu, Dr. Muhammad Zain pun berpandangan bahwa untuk membentuk karakter warga Sulbar yang malaqbiq ini, ada dua hal yang mesti diperhatikan, dan kadang ini terlupakan, terutama dalam beragama. Pertama tentang kekuatan Akhlak kedua ketajaman rasional.
Orang tua kita dulu, tidak terlalu mendalam ilmu agamanya secara akademik, namun hampir mereka semua adalah penganut tasawuf yang condong akhlaki. Sehingga kehidupan bermasayarakatnya langsung pada tingkah laku yang berakhlak al-karimah. Dan itu yang disebut malaqbiq.
Kemudian yang kedua pun tidak kalah penting. Menyambut era disruption, kita membutuhkan critical thinking untuk menyaring semua yang ada. Mestinya anak anak kita diajarkan ilmu logika di sekolah, terutama madrasah. Itulah mengapa Ulama Islam begitu besar, sebab mereka tuntas ilmu mantiqnya.
Seperti Imam Al-Ghazali dengan karyanya Mi'yar al-ilmi fi ilmi mantiq. Ibnu Sina dengan Isyarat WA tanbihat fil mantiq. Atau Imam Syafi'i dengan Ar-Risalahnya dan Organon karya besar ilmu mantiq Aristoteles dan masih banyak lagi. Ulama besar ini bisa merespon zamannya karena kekuatan nalarnya sudah kuat.
Ahad, 19 Desember 2021
Farham Rahmat
Komentar
Posting Komentar